Senin, 07 September 2015

efektifitas lama perendaman larutan kunyit sebagai penurun kadar formalin pada ikan asin

EFEKTIFITAS LAMA RENDAMAN KUNYIT SEBAGAI PENURUN
 KADAR FORMALI PADA IKAN ASIN


MINI RISET


Disusun Oleh :
Lailatul Munawaroh (14620085)
Achmad Rifky Alfian (14620086)
Maslahatul Ummah (14620097)

Malang, 01 juni 2015

Mengetahui

Telah Disetujui Oleh
Ketua Jurusan Biologi

Pembimbing

Dr. Evika Sandi Savitri

Ria Ramadhani, S. Kep, Ners.
NIP. 19741018200312 2 002

NIP. 19850617200912 2 005




ABSTRAK
Kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.Pada era global ini banyak dijumpai masalah yang berkaitan tentang kesehatan, masalah kesehatan di masyarakan pada zaman sekarang adalah bersumber dari pola makan yang sangat tidak sehat. Makanan dalam kehidupan sehari-hari sangatlah beragam dan banyak pula bahan tambahan yang dicampurkan, seperti bahan pengawet, pemanis, dan penyedap.Bahan-bahan tersebut diketahui dari bahan kimia yang berbahaya bagi yang mengonsumsinya. Pengawet yang biasa digunakan oleh banyak pengelolah produk makanan baik tradisional atau modern adalah formalin. Adapun tujuan dari miniriset yang dilakukan yaitu memaparkan kadar formalin pada ikan asin sebelum perlakuan, memaparkan kadar formalin pada ikan asin sesudah dilakukan perlakuan, memaparkan kunyit dapat mengurangi kadar formalin pada ikan asin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan pengaruh faktor penyimpanan  (2,4, dan 6 hari) dengan perlakuan pemberian kunyit 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektifitas kunyit sebagai pereduksi formalin pada ikan asin berada pada rentan penyimpanan sebelum perlakuan hingga 2 hari kemudianmenunjukkan  penurunan nilai absorbansi dengan panjang gelombang 520 nm dari 0, 832 menjadi 0,332.Kadar formalin yang terkandung pada ikan asin yang di peroleh dari 3 pedagang yang berbeda di pasar Merjosari adalah sampel A dan B tidak mengandung formalin, karena tidak ada perubahan warna ungu pada pengujian. Sedangkan, pada sampel C terbukti mengandung formalin karena satelah pengujian, larutan berubah menjadi warna ungu dan diuji pada spektofotometer menunjukkan nilai absorbansinya 0,832.Kadar formalin setelah perendaman dengan larutan kunyit mengalami penurunan kuantitas formalin yang terkandung dalam ikan asin, hal ini dibuktikan dengan menggunakan spektrofotometer digital.Akan tetapi, dalam penyimpanan mengalami kenaikan dan penurunan, pada sampel 1= 0,332, 2= 0,741, 3=0,539. Hal ini disebabkan karena zat aktif pada hari ke hari akan menurun dan pemakaian kuvet yang tidak sekali pakai.  Kunyit dapat menurunkan kadar formalin dengan memanfaatkan zat aktif saponin yang ada di kunyit, dengan cara merubah struktur kimia bahan makanan.
Kata kunci: kunyit, formalin, ikan asin






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Pada era global ini banyak sekali masalah yang berkaitan tentang kesehatan, masalah kesehatan di masyarakan pada zaman sekarang adalah bersumber dari pola makan yang sangat tidak sehat. Berbeda dengan zaman dahulu yang makanannya tidak banyak mengandung bahan kimia dan hanya dari hasil pertanian dan perikanan, dan semua hasil pertanian dan perikanan dihasilkan tanpa bahan kimia sedikit pun. Berdasarkan hal-hal tersebut masyarakat zaman dahulu terkenal dengan umur panjangnya dan tidak ditemukan penyakit yang beragam seperti sekarang.
Makanan dalam kehidupan sehari-hari sangatlah beragam dan banyak pula bahan tambahan yang dicampurkan, seperti bahan pengawet, pemanis, dan penyedap.Bahan-bahan tersebut diketahui dari bahan kimia yang berbahaya bagi yang mengonsumsinya. Pengawet yang biasa digunakan oleh banyak pengelolah produk makanan baik tradisional atau modern adalah formalin. Sejatinya formalin adalah pengawet yang digunakan untuk mayat atau pun dalam praktikum yang membutuhkan media pengawetan seperti hewan dan tumbuhan. Sifat formalin teratogenic rumus kimia dari formalin adalah CH2O, bentuk iritating odor, cair, tidak berwarna (bening)bahaya formalin dapat menimbulkan kanker (karsinogenik). Faktanya, masih banyak ditemukan ikan yang mengandung formalin di masyarakat.
Makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat salah satunya adalah ikan asin. Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90 persen, dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna ( Margono, 1993).
Pengetahuan masyarakat tentang bahan-bahan kimia juga menjadi kendala dalam hal ini. Masyarakat hanya mengetahui apa yang di konsumsi, namun tidak mengetatahui apa yang terkandung dalam makanan yang di konsumsinya. Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi seperti adanya televisi, koran dan internet masyarakat mulai mengatahui tentang bahan-bahan kimia yang ada pada makanan mereka dan bahan itu berbahaya. Formalin adalah salah satu bahan yang sering digunakan dalam pembuatan mekanan dan kebanyakan digunakan pada bahan makanan yang mudah membusuk seperti ikan, dan pemberian formalin pada ikan yang di lakukan oleh masyarakat sangat tidak sesuai dengan standar konsumsi.Hal tersebut sangat berbahaya dalam kesehatan manusia.Maka digunakan kunyit sebagai alternatif penurun kandungan formalin pada makanan, karena mudah didapatkan dan harganya juga terjangkau.
Untuk mengurangi adanya kandungan formalin dalam makanan khususnya ikan adalah dengan menggunakan bahan yang ada di sekitar masyarakat sendiri, yaitu dengan mengguakan kunyit sebagai penetralnya.Namun banyak masyarakat yang tidak mengetahui temtang khasiat kunyit yang begitu dahsyatnya.Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk merubah struktur kimia bahanmakanan, sehingga kandungan formalin pada udang dapat berkurang dan layakdikonsumsi manusia.Salah satunya dengan memanfaatkan zat aktif yang ada padakunyit yang mengandung senyawa saponin.Hal ini sesuai dengan pendapatGunawan (2004), saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyakmacam tumbuhan.Saponin terdiri dari sapogenin yaitu bagian yang bebas dariglikosida yang disebut juga “aglycone” dan sapogenin yang mengikat sakarida.Karena sapogenin bersifat lipofilik serta sakarida bersifat hidrofilik maka saponinbersifat amfifilik (amphiphilic atau surfactant properties).Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam miniriset ini Mahasiswa mengambil judul “Efektifitas Lama Rendaman Larutan Kunyit sebagai Penurun Kadar Formalin pada Ikan Asin”.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada miniriset yang dilakukan sebagai berikut.
1.      Apakah ada formalin pada ikan asin sebelum dilakukan perlakuan?
2.      Berapakah nilai absorbansi pada ikan asin sesudah dilakukan perlakuan?
3.      Apakah kunyit dapat  menurunkan kadar formalin pada ikan asin?
1.3 Tujuan
            Tujuan dari miniriset yang dilakukan sebagai berikut.
1.      Memaparkan adanya formalin pada ikan asin sebelum perlakuan.
2.      Memaparkan nilai absorbansi pada ikan asin sesudah dilakukan perlakuan.
3.      Memaparkan kunyit dapat menurunkan  kadar formalin pada ikan asin.
1.4  Manfaat
Manfaat yang dapat di ambil dari miniriset yang di lakukan sebagai berikut.
1.    Masyarakat dapat mengaplikasikan kunyit yang merupakan bahan yang sangat mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal, dan merupakan bahan yang familiar dalam pelbagai masakan yang bermanfaat sebagai pengurang kadar formalin.
2.    Mahasiswa dapat terinspirasi akan manfaat kunyit sebagai penurunan kadar formalin pada makanan.
                  








BAB II
DASAR TEORI

2.1 Kunyit
Kunyit termasuk salah satu tanaman rempah dan obat, habitat asli tanaman ini meliputi wilayah Asia khususnya Asia Tengggara.Hampir setiap bangsa Asia pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu, untuk menjaga kesehatan dan kecantkan. Kunyit menggandung senyawa yang berkhasiat sebagai obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksitikumin, bisdesmetoksikurkumin dan zat-zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon, zingiberen, Vitamin C dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium (Arisandi, 2008).
Habitus berupa semak dengan tinggi ±70 cm. Batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang.Berwarna hijau kekuningan.Daun tunggal, berbentuk lanset memanjang.Helai daun tiga sampai delapan.Ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm. Pertulangan daun menyirip.Daun berwarna hijau pucat.Bunga majemuk, berambut, bersisik.Panjang tangkai 16-40 cm. Panjang mahkota ±3 cm, lebar ±1±cm, berwarna kuning.Kelopak silindris, bercangap tiga, tipis dan berwarna ungu.Pangkal daun pelindung putih. Akar berupa akar serabut dan berwarna coklat muda (Napitupulu et al, 2008)
Nama daerah : Kakunye (enggano); Kunyet (Adoh); Kuning (Gayo); Kunyit (alas); Hunik (Batak); Odil (Simalur); Undre (nias); Kunyit (Lampung); Kunyit (Melayu); Kunyir (Sunda); Kunir (Jawa Tengah); Temo Koneng (Madura); Kunit (Banjar); Henda (Ngayu); Kunyit (Olon Manyan); Cahang (Dayak); Panyambung Dio (Panihing); Kalesiau (Kenya); Kunyit (Tidung); Kunyit (Sasak); Huni (Bima); Kaungi (Sumba Timur); Kunyi (Sumba Barat); Kewunyi (Sawu); Koneh (Flores); Kuma (Solor); Kumeh (Alor); Kunik (Roti); Hunik Kunir (Timor); Uinida (Talaud); Kuni (Sangir); Alawaha (Gorontalo); Kolalagu (Buol); Pagidon (Toli-toli); Kuni (Toraja); Kunyi (Ujungpandang); Kunyi (Selayar); Unyi (Bugis); Kuni (Mandar); Kurlai (Leti); Lulu Malai (Babar); Ulin (Tanimbar); Tun (Kayi); Unin (Ceram); Kunin (Seram Timur); Unin (ambon); Gurai (Halmahera); Garaci (Ternate); Rame (Kapaur); Kandeifa (Nufor); Nikwai (Windesi); Mingguai (Wandamen); Yaw (Arso) (Napitupulu et al, 2008).
2.2 Klasifikasi  kunyit (Curcuma domestica Val.)
Kingdom : plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zungiberaceae
Genus : Curcuma
Species :CurcumadomesticaVal.
(Tjitrosoepomo,2010)

2.3 Kandungan Kunyit
Saponin merupakan senyawa glikosida triterpenoida ataupun glikosida steroida yang merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisa sel darah merah. Pola glikosida saponin kadang-kadang rumit, banyak saponin yang mempunyai satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukuronat (Harborne, 2006).
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin. Saponin tersebar luas di antara tanaman tinggi, keberadan saponin sangat mudah ditandai dengan pembentukan larutan koloidal dengan air yang apabila dikocok menimbulkan buih yang stabil. Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan dapat menyebabkan bersin dan bersifat racun bagi hewan berdarah dingin, banyak di antaranya digunakan sebagai racun ikan (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Senyawa saponin dapat pula diidentifikasi dari warna yang dihasilkannya dengan pereaksi Liebermann-Burchard. Warna biru-hijau menunjukkan saponin steroida, dan warna merah, merah muda, atau ungu menunjukkan saponin triterpenoida (Farnsworth, 1966) Saponin memiliki berat molekul tinggi, dan berdasarkan struktur aglikonnya, saponin dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tipe steroida dan tipe triterpenoida. Kedua senyawa ini memiliki hubungan glikosidik pada atom C-3 dan memiliki asal usul biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Tipe aglikon senyawa saponin dapat dilihat pada gambar dibawah ini (Farnsworth, 1966):
a. Saponin Steroida
Saponin steroida terdapat pada tumbuhan monokotil maupun dikotil, contohnya diosgenin yang terdapat pada Dioscorea hispida, dan hecogenin yang terdapat pada Agave americana(Gunawan dan Mulyani, 2004).


 








b. Saponin Triterpenoida
            Saponin triterpenoida banyak terdapat pada tumbuhan dikotil seperti: gipsogenin terdapat pada Gypsophylla sp., dan asam glisiretat terdapat pada Glycyrrhiza glabra (Gunawan dan Mulyani, 2004).
 



2.4 Formalin
2.4.1 Struktur Formalin
            Menurut Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dr. Leonardus Broto Kardono, formalin pada mulanya berbentuk padat dengan sebutan formaldehida atau istilah asingnya ditulis formaldehyde. Zat yang sebetulnya banyak memiliki nama lain berdasarkan senyawa campurannya ini memiliki senyawa CH2OH yang reaktif dan mudah mengikat air. Bila zat ini sudah bercampur dengan air dia disebut formalin yang memiliki rumus kimia CH2O.Gambar di bawah ini menunjukan struktur formalin.Bahan  formalin yang banyak ditemukan di pasar umumnya mempunyai konsentrasi 37%-40%. Formalin mempunyai fungsi sebagaiantibacterial agent dapat memperlambat aktivitas bakteri dalam makanan yang mengandung banyak protein, maka formalinbereaksi dengan protein dalam makanan dan membuat makanan menjadi awet. Tapi ketika masuk kedalam tubuh  manusia, makaia bersifat mutagenik dan karsiogenik yang dapat memicu tumbuhnya sel kanker dan cacatnya gen pada tubuh (Mahdi, 2008).


Struktur Formalin (Fluka, 2001)
Menurut IPCS (International Programme on ChemicalSafety), lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO,UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatanpenggunaan bahan kimiawi, secara umum disebutkan bahwabatas toleransi formaldehida yang dapat diterima tubuh dalambentuk air minum adalah 0,1 mg/liter (1 ppm setara 1 mg/liter)atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0.2 mg.Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentukmakanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg perhari. National Institute for Occupational Safety and Health(NIOSH) menyatakan formaldehida berbahaya bagi kesehatanpada kadar 20 ppm. Sedangkan dalam Material Safety Data Sheet (MSDS), formaldehida dicurigai bersifat kanker (Fluka, 2002).
Mekanisme penarikan kadar formalin yaitu, ketika formalin dan protein ikan asin membentuk ikatan silang yang sulit dipecah dan kemudian direndam pada larutan kunyit, formalin tersebut akan terangkat oleh senyawa saponin yang terkandung pada larutan kunyit. Formalin tersebut terangkat oleh senyawa saponin, maka saponin akan larut dan membentuk misel. Bagian yang berbentuk bulat mengarah keluar merupakan bagian kepala dan kemudian berinteraksi dengan air (bersifat polar), sehingga formalin tersebut dapat terlarut bersama air. Hal ini terjadi karena kemungkinan keberadaan dua gugus yang terdapat pada surfaktan (polar dan non polar) dalam senyawa saponin yang memiliki kemampuan untuk mengemulsi air dan formalin (Damayanti, 2014).
2.4.2 Pengertian Formalin
            Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.Di dalam formalin mengandung sekitar 37% formaldehid dalam air, biasanya ditambah methanol dalam sehingga 15% sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dala Industri. Nama lain dari formalin adalah formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formadhehyde, dan Formalith (Astawan dan Made, 2006). Berat molekul Formalin adalah 30,03 dengan rumus molekul HCOH. Karena kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya kedalam sel tubuh.Gugus karbonil yang dimilikinya sagat aktif, dapat bereaksi dengan gugus –NH2 dari protein yang ada pada tubuh membentuk yang ada pada tubuh membentuk senyawa yang mengendap (Harmita,2006).
            Penggunaan formalin antara lain sebagai pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih lantai, gudang, pakaian dan kapal, pembasmi lalat dan serangga lainya, pembuatan sutera buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin. Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formalin. Formalin biasa ditemukan dipasaran dalam bentuk yang sudah diencerkan dengan kandungan formalin 10-40% (Arif, 2011) bahan pembentuk pupuk berupa urea, bahan pembentuk produk parfum, bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku, pencegah korosi untuk sumur minyak, bahan untuk isolasi busa, bahan perekat untuk produk kayu lapis (playwood). Untuk konsentrasi yang sangat kecil (<1%) digunakan sebagagai pengawet, pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet (Astawan dan Made 2006).
2.4.3 Dampak Formalin
Beberapa akibat yang ditimbulkan oleh formalin yaitu (nikita, 2011) :
1.      Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.
2.      Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar.
3.      Jika terkena mata akan menyebabkan mata kemerah, gatal, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan.
4.      Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangan pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.
Ambang batas aman Formalin di dalam tubuh menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety) lembaga khusus PBB yang bertugas mengontrol keselamatan penggunaan bahan kimiawi, dalam bentuk cairan adalah 1 miligram per liter, sedangkat orang dewasa adalah 1,5-14 mg/hari (Wisnu, 2006).
Banyaknya penggunaan formalin oleh produsen ikan asin karena ada beberapa keuntungan yaitu ikan asin dengan formalin menjadi tidak lembek, tidak mudah rusak, tidak menyengat baunya dan warna ikan tampak lebih bersih. Hal tersebut menyebabkan ikan asin menjadi lebih awet sehingga waktu penyimpanan dan penjualan ikan asin dapat lebih lama lagi(Widyaningsih,2006).
            Penggunaan formalin sebagai pengawet makanan dilarang di Indonesia, hal ini dinyatakan pada peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1168/Menkes/Per/X/1999 yang diperbaharui dari peraturan Mentri KesehatanRepublik Indonesia No.722/Menkes/Per/IX/1988 peraturan Mentri Perindustrian Nomor: 24/M-Ind/Per/5/2006 dan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 (Nadya,2014).
2.4.4 Pengertian Pengeringan dan Pengaruhnya Terhadap Bahan
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan ataumenghilangkan sebagian air dari suatu bahan pangan dengan caramenguapkan air tersebut. Pada umunya kadar air bahan dikurangi sampaibatas tertentu supaya pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dapatdihentikan (Winarno et. al, 1982).
Proses pengeringan didasarkan pada penguapan air, karena adanyaperbedaan kandungan uap air antara udara dan produk yang dikeringkan.Kandungan uap air udara lebih rendah dibandingkan dengan kadar air dalamtubuh ikan sehingga terjadi proses penguapan. Adapun faktor-faktor yangmempengaruhi kecepatan pengeringan ikan adalah kecepatan udara (angin),kelembaban udara, suhu udara, serta keadaan fisik dan kimia ikan (Moeljanto,1982).
Icho (2001) lebih lanjut memberi penjelasan untuk mendapatkan mutuikan asin yang baik memerlukan persyaratan bahan yang digunakan (ikan dan garam) serta cara pengolahannya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktorseperti kesegaran, kandungan dan ketebalan ikan serta kehalusan, kemurniandan kepekatan garam.
Keuntungan dari pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet artinyakadar air mempunyai kaitan erat dengan keawetan bahan pangan yaitu bahanpangan yang berkadar air rendah akan lebih awet dibandingkan yang berkadarair tinggi . Hal ini terjadi karena dalam proses enzimatis dan kimiawi sertapertumbuhan bakteri diperlukan sejumlah air. Turunnya kadar air yang adadalam suatu bahan akan memberi kemungkinan berkurangnya kebusukan darimakanan tersebut. Sedangkan kerugiannya bahan mengalami kerusakankarena serangga, reaksi pencoklatan/browning dan jamur (Indriati et.al, 1991).
Selanjutnya Winarno et.al (1980) menjelaskan bahwa pengeringanakan menyebabkan turunnya nilai nutrisi bahan, karena biasanya produkyangdihasilkan telah mengalami proses pendahuluan seperti pencucian danpenggaraman.
Bahan yang dikeringkan akan memiliki nilai gizi yang relatif lebih rendah dibandingkan bahan segarnya. Menurut Poernomo et.al (1984) menyebutkan komposisi kimia ikan mengandung air 42,96%, abu 18,27%, garam 14.51%, protein 33.11%, lemak 5.36%, karbohidrat 3.07% dan kalori/gram 1.52%. Sedangkan komposisi kimia produk perikanan asin kering mengandungair  42%, abu 17.14%, garam 13.43%, protein 35.58%, lemak 4.60%,karbohidrat 4.41% dan kalori/gram 1.61%. Selain itu selama pengeringan, bahan akan mengalami perubahan tekstur, aroma dan warna. Perubahanwarna yang dimaksud adalah perubahan warna menjadi coklat akibat reaksi pencoklatan non enzimatis. Reaksi pencoklatan ini akan terus berlangsung selama penyimpanan produk dalam waktu yang lama. Subroto et.al (1990)dalam Indriati et.al (1991) memperkirakan reaksi pencoklatan terjadi karenareaksi antara protein, peptida dan asam amino dengan hasil dekomposisi lemak. Reaksi ini diketahui menurunkan nilai gizi protein yang bersangkutan dengan cara menurunkan nilai cernanya dan menurunkan ketersediaan asamamino essensial terutama lysin.
2.4.5. Pengertian Ikan Asin
Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90 persen, dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna ( Margono, 1993).
Penggunaan formalin oleh para produsen ikan asin dikarenakan cara produksinya masih manual, pengeringan ikan masih sangat tergantung dari cuaca. Kalau musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Begitu air hujan turun, para menutupi ikanikan yang tengah dijemur itu dengan plastic agar tidak basah. Jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan makanan akan mudah ditumbuhi jamur. Bahan makanan menjadi mudah penyok dan hancur, terutama apabila cara pengemasannya tidak rapi dan harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku di pasaran. Dengan membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk makanan maka ikan tidak ditumbuhi jamur dan lebih awet. Pemakaian formalin juga dipercaya dapat mempercepat proses pengeringan dan membuat tampilan fisik tidak cepat rusak (Hastuti,2010).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan penelitian
            Penelitian mini riset ini menggunakan jenis penelitian eksperimental yaitu menguji lama rendaman kandungan kunyit terhadap penurunan kadar formalin pada ikan asin yang diambil 3 sampel dari pedagang dan jenis ikan asin yang berbeda di Pasar Merjosari.
3.2 Populasi dan Sampel
            Sampel yang digunakan dari tiga jenis ikan asin dan pedagang yang yang berbeda, yang didapat dari Pasar Merjosari Malang, kemudian dari tiga sampel tersebut masing-masing diambil 1 gr.
3.3 Waktu dan Tempat
            Miniriset kali ini dengan judul “Efektifitas Lama rendaman Larutan Kunyit(Curcuma Domestica.) Sebagai Penurunan Kadar Formalin Pada Ikan Asin”,dilaksanakan pada hari selasa pukul 09.00-11.00 yang bertempat di laboratorium Biokim Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.4 Alat dan Bahan
3.4.1 Alat-Alat
 Pada praktikum kali ini mengenai  “Efektifitas Lama rendaman Larutan Kunyit (Curcuma Domestica) sebagai Penurunan Kadar Formalin pada Ikan Asin” menggunakan alat-alat sebagai berikut.
1.      Beaker glass 100 ml sejumlah 1 buah
2.      Erlenmeyer sejumlah 3 buah
3.      Gelas ukur 50 ml sejumlah 1 buah
4.      Hot platesejumlah 1 buah
5.      Timbangan  sejumlah 1 buah
6.      Spektrofotometer sejumlah 1 buah
7.      Cuvet sejumlah 4 buah
8.      Kulkas sejumlah 1 buah
9.      Pipet tetes sejumlah 2 buah
10.  Pengaduk kaca sejumlah 1 buah
11.  Tabung reaksi sejumlah 3 buah
12.  Porselen sejumlah 2 buah
13.  Corong gelas sejumlah 1 buah
14.  Tabung flacon sejumlah 3 buah
3.4.2 Bahan-Bahan
Pada praktikum kali ini mengenai  “Efektifitas Lama rendaman Larutan Kunyit (Curcuma Domestica.)Sebagai Penurunan Kadar Formalin Pada Ikan Asin” menggunakan bahan-bahan sebagai berikut.
1.      Ikan Asin sebanyak 16 gram                                                                                                     

2.      Kunyit sebanyak 1 ons

3.      Aquades sebanyak 60 ml

4.      Teskit formalin sebanyak 6 ml                                                                              

3.5 Langkah kerja
3.5.1 Pengujian secara Kulitatif
            Ikan asin yang digunakan adalah dibeli dari 3 padagangdan jenis ikan asin yang berbeda di pasar Merjosari yang dicurigai mengandung formalin, jenis ikan yang di gunakan jenisnya berbada-beda, berikut adalah cara kerja pengujian secara kualitatif untuk mengetahui adanya kandungan formalin pada ikan asin.
1.      Ditimbang sampel (A,B,C) masing-masing sebanyak 1 gram.
2.      Dimasukkan aquades dalam beaker glass sebanyak 10 ml,kemudian dididihkan dengan suhu 200oC
3.      Dimasukkan bahan yang diuji keerlenmeyer, lalu direndam dengan aquades yang mendidih
4.      Dimasukkan teskit formalin 1 ml dan dihomogenkan.
5.      Ditunggu sampai berubah warna menjadi ungu
3.5.2 Pembuatan Larutan Kunyit 10%
            Kandungan saponin pada kunyit mengubah struktur kimia pada makanan, sehingga dapat menurukan kadar formalin. Dibutuhkan larutan kunyit sebagai media perendaman bagi ikan asin yang mengandung formalin.Larutan kunyit yang dibutuhkan konsentrasi terbaik yakni 10% (Wikanta, 2011).
Berikut cara pembuatannya,
1.      Di ambil 1 ons kunyit dan di cuci bersih
2.      Di kupas kunyit, di tumbuk hingga halus dan diperas tanpa pelarut
3.      Diambil aquades 9 ml dan larutan kunyit 1 ml dengan pipet
4.      Dimasukkan ke dalam tabung flacon
5.      D homogenkan
3.5.3 Pengujian secara kuantitatif
            Pengujian kuantitatif untuk sampel ikan asin yang telah terbukti mengandung formalin yakni sampel C. Maka perlakuan perendaman dilakukan pada sampel C, sehingga mendapatkan hasil sampel 1,2 dan 3. Berikut cara kerjanya.
1.      Di timbang sampel C masing-masing 1 gramsebanyak tiga kali
2.      Di masukkan masing-masing bahan ke dalam tabung flacon menghasilkan tiga sampel
3.      Diambil larutan kunyit dan dimasukkan padamasing-masing tabung flacon
4.      Dimasukkan ke dalam kulkas 3 sampel dengan suhu 20C untukdapat
memperpanjang daya tahan daging sampel
5.      Di uji sampel setelah hari ke 2, 4, dan 6 menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 520 nm.
3.6 Penggunaan Alat
3.6.1 Hot Plate
            Hot plate digunakan untuk memanaskan aquades untuk uji kualitatif. Cara penggunaan hot plate adalah sebagai berikut.
1.      Dipastikan kabel terhubung pada sumber arus
2.      Diputar tombol on/ off untuk memanaskan. Diputar ke arah kanan untuk menaikkan suhu.
3.      Diletakkan sampel yang akan dipanaskan tepat pada posisi dasar hot plate
4.      Dimatikan hot plate dengan diputar tombol on/ off bila selesai penggunaan
5.      Dicabut kabel dari sumber arus listrik.




3.6.2 Penggunaan Spektrofotometer
            Spektofotometer digunakan untuk uji kuantitatif. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut.
1.      Dipastikan kabel terhubung pada sumber arus
2.      Ditekan tombol on untuk menghidupkan spektrofotometer, ditunggu proses pembacaan
3.      Ditekan tombol λ
4.      Dipilih angka dari 1 sampai 8 berdasarkan jumlah zat yang diabsorbansi
5.      Dimasukkan nilai panjang gelombang sebesar 520 nm
6.      Dimasukkan sample pada cuvet, dengan sisi terang menghadap tanda panah yang ada disamping lubang sample
7.      Dimasukkan blanko (pelarut) dan ditekan tombol read blank
8.      Dikeluarkan blanko setelah terbaca absorbansinya. Selanjutnya sample di masukkan dengan menekan tombol read sample.
9.      Dikeluarkan sample setelah terbaca absorbansinya
10.  Dilanjutkan dengan menekan tombol enter
11.  Ditekan tombol off untuk mematikan spektrofotometer
12.  Dicabut kabeldari sumber arus listrik.













BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Sebelum Perlakuan
Tabel 1 hasil pengujian kualitatif
No
Hari, Tanggal
Uji kualitas
1
Rabu, 13 Mei
A
B
C
Keruh
Keruh
Ungu pekat

4.1.1 Pembahasan
            Praktikum miniriset kali ini dengan judul “Efektifitas Lama rendaman Larutan Kunyit (Curcuma Domestica)  Sebagai Penurunan Kadar Formalin Pada Ikan Asin” dengan tujuan untuk memaparkan kadar formalin pada ikan asin sebelum dan sesudah dilakukan pelakuan, memaparkan perbedaan kadar formalin pada ikan asin sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan, dan memaparkan kunyit dapat mengurangi kadar formalin pada ikan asin. Beberapa alat yang digunakan seperti gelas beaker, gelas ukur, pipet tetes, erlenmeyer, pengaduk kaca, spektofotometer, dan bahanya  menggunakan ikan asin, kunyit, aquades dan larutan testkit formalin (untuk mendeteksi adanya formalin). Pada gambar 1 adalah ikan asin yang didapat dari 3 pedagang dan jenis ikan asin yang berbeda di pasar Merjosari. Sampel Ikan asin A, B, dan C  selanjutnya ditimbang masing-masing 1 gram.
Description: D:\gambar miniriset\khn.jpg Description: D:\gambar miniriset\jg.jpg Description: D:\gambar miniriset\jh.jpg
 



                        A                                             B                                             C
Gambar 1 sampel ikan asin
Langkah awal untuk memulai miniriset kali ini adalah mencari bahan ikan asin di Pasar Merjosari malang dengan tiga sampel dari penjual yang berbeda-beda. Ketiga sampel tadi ditandai dengan abjad A, B, dan C. Kemudian diuji untuk mendeteksi adanya formalin dalam ikan asin tersebut, dengan dua kali pengujian yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif dilakukan terhadap tiga sample diatas, diawali dengan mengambil 1 grbahan ikan asin  dan dimasukkan pada erlenmeyer, kemudian 10 ml aquades dididihkan dengan menggunakan hot plate dengan suhu 200oC. Setelah mendidih aquades dimasukkan erlenmeyer yang didalamnya terdapat bahan 1 gr ikan asin, selanjutnya dihomogenkan kemudian ditetesi 1ml larutantestkit dengan komposisi pewarna pararosanilin dan larutan asam klorida yang berfungsi untuk mendeteksi adanya formalin dalam ikan asin tersebut, ditunggu 15 menit sehingga berubah warna menjadi ungu, warna ungu menunjukkan adanya larutan formalin didalamnya, semakin ungu warna yang didapat maka semakin banyak pula larutan formalin yang terkandung di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sri Hastuti(2010), bahwa produk yang mengandung formalin akan ditunjukkan dengan berubahnya warna air dari bening menjadi merah muda hingga ungu. pengujian terhadap 3 sampel untuk membandingkan sampel mana yang mengandung formalin diantara 3 sampel tersebut. Diperoleh hasil pada miniriset ini adalah warna ungu pada sampel ikan asin C .Perbandingan hasil antara ke tiga sampel dapat dilihat pada gambar 2.
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\PKK.jpg
Gambar 2 perbandingan hasil kualitatif sampel A,B, dan C
Tabel 2 uji kualitatif dan kuantitatif sebelum perlakuan
No
Hari, Tanggal
Uji Kualitatif
Uji Kuantitatif
1
Rabu, 13 Mei
Ungu Pekat
Blangko = 0,000
Sampel = 0,832

            Tebel 2 adalah hasil dari uji kualitatif dan kuantitatif.Uji kualitatif ditandai dengan perubahan warna yang bereaksi ketika ditambahkan larutan teskit formalin.Sedangkan uji kuantitatif dilakukan dengan alat spektofotometer yang menghasilkan angka (absorbansi).Angka tersebut di peroleh dari panjang gelombang yang warna, dalam hal ini digunakan panjang gelombang berwarna ungu.dengan cara sampel yang mengandung formalin diambil larutannya dan dimasukkan pada tabung cuvetselanjutnya diuji dengan alat spektrofotometer danmenghasilkan nilai absorbansi sebesar 0,832. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 3 dan gambar 4.
Description: D:\gambar miniriset\khliu.jpg                                Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10296.jpg
Gambar 3 sampel C di dalam kuvet          Gambar 4 spektrofotometer
4.2    Hasil pengamatan Sesudah Perlakuan 
4.2.1   Pembahasan
Bahan yang digunakan sebagai pereduksi formalin dalam ikan asin yaitu kunyit. Untuk dapat mereduksi zat kimia formalin pada makanan, dibutuhkan upaya untuk merubah struktur kimia, sehingga kandungan formalin pada ikan asin dapat berkurang dan layak dikonsumsi manusia. Salah satunya dengan memanfaatkan zat aktif yang ada pada kunyit yang mengandung senyawa saponin.  Hal ini sesuai dengan pendapat Gunawan (2004), saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tumbuhan. Saponin terdiri dari sapogenin yaitu bagian yang bebas dari glikosida yang disebut juga “aglycone” dan sapogenin yang mengikat sakarida. Karena sapogenin bersifat lipofilik serta sakarida bersifat hidrofilik maka saponin bersifat amfifilik (amphiphilic atau surfactant properties).
Larutan kunyit yang dibutuhkan adalah 10 %.Hal ini diperkuat dari pendapat Wikanta (2011), bahwa larutan kunyit yang mempunyai kosentrasi terbaik dari berbagai konsentrasi ( 0%, 10%, 20%, dan 30%) yaitu berkonsentrasi 10%.Cara pembuatan larutan tersebut  adalah diambil 1 ons kunyit segar, kupas dan cuci hingga bersih. Selanjutnya haluskan kunyit dengan porselen hingga halus, setelah halus peras kunyit dengan seringan agar ampas tidak ikut dalam hasil larutan.Hal ini dapat di lihat pada gambar 5.
Description: D:\gambar miniriset\Foto10228.jpgDescription: D:\gambar miniriset\hu.jpgDescription: D:\gambar miniriset\klhoh.jpg
Gambar 5 pembuatan larutan kunyit
Description: D:\gambar miniriset\jhg.jpgCara  membuat larutan kunyit 10 %  adalah dengan mengambil 1 ml larutan kunyit dan 9 ml aquades dengan pipet, masukkan ke dalam tabung flacon dan dihomogenkan agar tercampur antara larutan kunyit dan aquades. Disiapkan 3 tabung flacon karena akan dibuat  3 sampel yaitu sampel 1,2 dan 3.Masukkan    10 % larutan kunyit pada masing-masing tabung flacon dan masukkan pula ikan asin yang mengandung formalin (sampel C) sebanyak 1 gram pada masing-masing tabung flacon yang berisi larutan kunyit.Hasil dari perlakuan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.Kemudian, 3 sampel tadidisimpan dalam lemari es dengan suhu 20C. Hal ini diperkuat pendapat Winarno (1997), bahwa pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan diatas suhu pembekuan yaitu 2-10°C. Pendinginan yang biasa dilakukan dalamlemari es umumnya mencapai 4-8°C. Penyimpanan daging pada suhu dingin dapatmemperpanjang daya tahan daging karena pada suhu dingin aktifitasmikroorganisme dapat dihambat dan ditekan.




Gambar 6 sampel yang akan disimpan

4.2.2  Hasil Pengujian Setelah Perendaman dengan Larutan Kunyit pada pada Sampel C
Tabel 3 Hasil Pengujian Setelah Perendaman dengan Larutan Kunyit pada pada Sampel C
No
Hari, Tanggal
Lama Penyimpanan
Uji kualitas
Uji kuantitas
1
Jum’at, 15 Mei 2015
(Sampel 1)

2 Hari
Ungu bercampur kuning
Blangko = 0,000
Sampel = 0,332
2
Senin, 18 Mei 2015
(Sampel 2)

4 Hari
Ungu bercampur kuning
Blangko = 0,000
Sampel = 0,741
3
Rabu, 20 Mei 2015
(Sampel 3)

6 Hari
Ungu bercampur kuning
Blangko = 0,000
Sampel = 0,539

4.2.3   Pembahasan
Pengujian kuantitatif terhadap kadar formalin pada ikan asin dilakukan selama 2, 4, dan 6 hari dengan dibuat 3 sampel yang kemudian direndam pada larutan kunyit berkonsentrasi 10%. Untuk permulaan uji sebelum penyimpanan pada kulkas, didapat sampel awal seperti pada gambar 3, berwarna ungu Pekat. Selanjutnya diukurblanko dan sampel pada spektofotometer. Blanko yang du gunakan adalah pelarut yaitu aquades. Panjang gelombang yang dugunakan adalah ungu yaitu 520 dan didapat nilai blangko = 0,000,dan sampel = 0,832.Hal ini diperkuat oleh pendapat Hastuti (2010), bahwa absorbansi diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 520 nm.
Kemudian dilanjutkan pengujian pada sampel 1 yang telah disimpan pada kulkas selama 2 hari.Didapat sampel 1 berwarna ungu bercampur kuning. Selanjutnya ikan asin diambil dan dimasukkan pada tabung reaksi yang berisi air didihan. Kemudian diteteskan teskit formalin dan dihomogenkan. Langkah ini dilakukan terhadap sampel 2, dan 3.Selanjutnya diukur blanko dan sampel pada spektofotometer dan didapat nilaiblangko 0,000, dansampel = 0,332. Selang 2 hari kemudian, dilakukan uji terhadap sampel 2, dan didapat sampel 2 berwarna ungu bercampur kuning dengan nilaiblangko = 0,000, dansampel = 0,741. Selang 2 hari kemudian, dilakukan uji terhadap sampel 3, dan didapat sampel 3 berwarnaungu bercampur kuning dengan nilaiblangko = 0,000, danSampel = 0,539.
4.2.4     Perbandingan Hasil Penyimpanan
Tabel 4 Perbandingan Hasil Penyimpanan
No
Nama
Massa sampel
Gambar
1
Sampel 1
(hari ke 2)
1 gram (sampel c)
Description: D:\gambar miniriset\jhg.jpgDescription: D:\gambar miniriset\ghfgtf.jpg








2
Sampel 2
(hari ke 4)


1 gram (sampel c)
Description: D:\gambar miniriset\hgdt.jpgDescription: D:\gambar miniriset\fyuyuy.jpg
3
Sampel 3
(hari ke 6)




1 gram
(sampel c)

Description: D:\gambar miniriset\tgftyf.jpgDescription: D:\gambar miniriset\srtg.jpg











4.2.5 Pembahasan
Hasil yang didapatkan dari penyimpanan selama 2, 4, dan 6hari terdapat perbedaan nilai yang didapatkan. Untuk hasil nilai pada hari ke 2 mengalami penurunan nilai kadar formalin dari 0,832 menjadi 0, 332. Hal ini sesuai dengan pendapat Damayanti (2014), bahwa Kadar residu formalin pada ikan asin dapat tereduksi setelah direndampada larutan kunyit, karena hal ini terjadi reaksi kimia antara formalin dengansaponin. Akan tetapi perlu diketahui, untuk nilai kadar formalin antara hari ke 2 sampai hari ke 4 mengalami peningkatan. Hal ini kemungkinan terjadi karena kesalahan serapan oleh kuvet , karena kuvet yang digunakan berbahan dasar plastik. Hal ini diperkuat oleh pendapat Beran, J. A (1996), bahwa kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa. Dibandingkan dengan kuvet dari bahan gelas, kuvet kuarsa memberikan kualitas yang lebih baik, namun tentu saja harganya jauh lebih mahal. Serapan oleh kuvet ini diatasi dengan penggunaan jenis, ukuran, dan bahan kuvet yang sama untuk tempat blangko dan sampel.Kesalahan ketiga fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi yang sangat rendah atau sangat tinggi. Hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan). Akan tetapi antara hari ke 4 sampai hari 6 mengalami penurunan nilai kadar formalin. Paparan di atas menunjukkan bahwa kerja larutan kunyit yang efektif sebagai pereduksi kadar formalin terjadi pada hari ke 2 penyimpanan ikan asin di dalam kulkas.
Praktikum miniriset ini menggunakan alat spektrofotometer. Fungsi alat spektrofotometer dalam laboratorium adalah mengukur transmitans atau absorbans suatu contoh yang dinyatakan dalam fungsi panjang gelombang. Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian di serap dalam medium itu, dan sisanya diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel. Studi spektrofotometri dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Hukum Beer menyatakan  absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengankonsentrasi dan ketebalan bahan/medium (Miller J.N 2000).
Unsur-unsur terpenting suatu spektrofotometer adalah (1) Sumber energi radiasi yang kontinu dan meliputi daerah spektrum, di mana alat ditujukan untuk dijalankan, (2) Monokromator, yang merupakan suatu alat untuk mengisolasi suatu berkas sempit dari panjang gelombang-panjang gelombang daru spektrum luas yang disiarkan oleh sumber (tentu saja tepat monokromatisitas tidak dicapai), (3)Wadah untuk contoh, kuvet yang terbuat dari kuarsa memeliki ketelitian yang tinggi, (4)  Detektor yang merupakan suatu transducer yang mengubahenergi radiasi menjadi isyarat listrik, (5) Penguat dan rangkaian yang bersangkutan yang membuat isyarat listrik cocok untuk diamati, (6) Sistem pembacaan yang dapat mempertunjukkan besarnya isyarat listrik (Rohman. 2007).
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10295.jpg
Gambar 7 alat spektrofotometer









BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
1.      Kadar formalin yang terkandung pada ikan asin yang di peroleh dari pedagang di pasar Merjosari adalah sampel A dan B tidak mengandung formalin, karena tidak ada perubahan warna ungu pada pengujian. Sedangkan pada sampel C terbukti mengandung formalin karena satelah pengujian, larutan berubah menjadi warna ungu dan diuji pada spektofotometer menunjukkan nilai absorbansinya 0,832.
2.      Kadar formalin setelah perendaman dengan larutan kunyit mengalami penurunan kuantitas formalin yang terkandung dalam ikan asin, hal ini di buktikan dengan menggunakan spektofotometer. Akan tetapi, dalam penyimpanan mengalami kenaikan dan penurunan, pada sampel pertama = 0,332, kedua = 0,741, dan ketiga =0,539. Hal ini disebabkan karena zat aktif pada hari ke hari akan menurun. Akan tetapi pemakaian kuvet yang tidak sekali pakai akan berpengaruh pada hasil yang diperoleh. Masing-masing sampel dilakukan sekali pembacaan.
3.      Kunyit dapat menurunkan kadar formalin dengan memanfaatkan zat aktif saponin yang ada di kunyit, dengan cara merubah struktur kimia bahan makanan dengan menarik formalin dari bahan makanan.
5.2 Saran
            Berdasarkan penelitian mini riset yang dilakukan, maka perlu adanya perbaikan, karena dalam mini riset ini ditemukan hasil yang tidak sesuai dengan literatur acuan.Sehingga, bagi peneliti selanjutnya disarankan agar menguasai teknik dan teliti dalam melakukan eksperimen, sehingga diperoleh hasil yang diharapkan, dan diharapkan untuk mengembangkan penelitian yang serupa untuk pemanfaatan sumber daya alam yang ada.


DAFTAR PUSTAKA
Arisandi, Y dan Yovita A. 2008.Khasiat Tanaman Obat. Pustaka buku merah.
Astawan, Made, 2004.Ikan Yang Sedap dan Bergizi. Solo: Pustaka Mandiri
Beran, J.A. 1996. Chemistry in The Laboratory. John Willey & Sons.
Damayanti, E., Ma’ruf, A., Wijayanti. 2014. Efektivitas Kunyit (Curcuma Longa Linn.) sebagai Pereduksi Formalin pada Udang Putih (Penaeus Merguiensis) Penyimpanan Suhu Dingin. Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan. Volume 3, Nomer 1, Tahun 2014, Halaman 98-107.
Farnsworth, N. R.1966. Biological and Phytochemical Screening of Plants.Journal of Pharmaceutical Sciences.Volume 55. No.3.Chicago: Reheis Chemical Company. Pages 263-264.
Gunawan, D, Mulyani, S., 2004.Ilmu Obat Alam(Farmakognosi)Jilid I, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Harborne, J. B. 2006. Metode Fitokimia. Terbitan ke-II.a.b. Kosasih Padmawinata. Penerbit ITB. Bandung.
Harmita. 2006. Analisis Fitokimia. Depok: Universitas Indonesia Press.
Hastuti, S. 2010. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Formaldehid pada Ikan Asin di Madura.Jurnal Agrointek. Vol 4, No. 2.
Mahdi, C. 2008. Mengenal Perbagai Produk Reagen Kit TesterUntuk Uji Formalin, Borak, Zat Pewarna Berbahaya Dan Kandungan Yodium Pada Garam Beryodium. Lampiran2, Universitas Brawijaya. chanifmahdi@gmail.com
Miller, J. N and Miller, J.C. 2000.Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry, 4th ed, Prentice Hall : Harlow.
Nadya Yulisa, Enikarmila Asni, Miftah Azrin. 2014. Uji formalin pada ikan asingurami di pasar tradisional pecan baru. Jom FK, Vol.1, No.2. hal,2
Napitupulu et al. 2008.TaksonomiKoleksi Tanaman ObatKebun Tanaman
                   ObatCiteureup. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
                   Indonesia.
Nikita Noriko, Ekaristi Pratiwi, Angelia yulita, Dewi Elfidasari. Studi Kasus Zat
                   Pewarna, Pemanis Buatan dan Formalin Pada Jajan Anak Di SDN Telaga Murni03 dan tumbuhan 04 Kabupaten Bekasi.Jurnal Al-Azhar Indonesia seri sains danteknologi, Vol. 1, No. 2, hal 49.
Nurheti, Y. 2007. Awas Bahaya! Dibalik Lezatnya Makanan. CV Andi Offset,
                   Yogyakarta.
Reuss W, Disteldorf AO, Gamer AH.2005. Formaldehyde" in Ullmann's
                   Encyclopedia of Industrial Chemistry.Weinheim: Wiley-VCH.
Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan . Yogyakarta : UGM
Tri, Margono. 1993. Buku Panduan Teknologi Pangan, Jakarta : Pusat Informasi Wanita
Widyaningsih TD, Murtini ES.2006.Alternatif pengganti formalin pada produk
                   pangan.Surabaya: Trubus Agrisarana..
Wisnu, C. 2006. Analisisdan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
                   PT.Bumi Aksara, Jakarta.


















Lampiran
ü  Bahan-bahan dan perlakuan
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10212.jpg
Sampel A
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10213.jpg
Sampel B
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10214.jpg
Sampel C
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10205.jpg
Kunyit
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10228.jpg
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10294.jpgMenghaluskan kunyit
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10231.jpg
Larutan kunyit
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10232.jpg
Pemanasan menggunakan hot plate








Penghomogenan
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10235.jpg






Hasil ketika dingin
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10236.jpg







Hasil dari sampel A,B, dan C
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10256.jpg






Perendaman
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10295.jpg






Spektrofotometer
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10304.jpg







Hasil dari sampel 1,2, dan 3

ü  Alat-alat
Description: D:\IMG20150505135346.jpg
 




Cuvet
Description: D:\IMG20150505135229.jpg



Gelas beker
Description: D:\IMG20150505135054.jpg



Erlenmeyer
Description: D:\IMG20150505134708.jpg






Timbangan digital

Description: D:\IMG20150505135124.jpg






Description: D:\IMG20150505134313.jpgLarutan teskit formalin
Description: D:\IMG20150505134631.jpg






Hot plate
Description: D:\IMG20150505134458.jpg




Pinset


Pengaduk kaca
Description: D:\IMG20150505134012.jpg



Corong
Description: D:\IMG20150505133914.jpg




Tabung flacon
Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10209.jpg




Porselen

Description: D:\kampus\semeeter 2\gambar miniriset\Foto10238.jpg




Tabung reaksi
ü  Tabel uraian kegiatan penelitian
No
Hari dan Tanggal
Tempat
Uraian Kegiatan
1
Jum’at, 8 Mei 2015
Laboratorium biokimia
Perizinan laboratorium dan peminjaman alat-alat
2
Senin, 11 Mei 2015
Sari kimia
Mencari bahan kimia
3
Selasa, 12 Mei 2015
Laboratorium biokimia
Memulai praktikum
(mempunyai kendala)
4
Rabu, 13 Mei 2015
Laboratorium biokimia
Uji kualitas sampel A,B, dan C, yang mengandung formalin pada sampel C dan mulai perendaman, menghasilkan sampel 1,2, dan 3
5
Jum’at, 15 Mei 2015
Laboratorium biokimia, fisiologi hewan,  dan genetika
Uji kualitas sampel 1 dan di lanjutkan uji kuantitas
6
Senin, 18 Mei 2015
Laboratorium biokimia, fisiologi hewan,  dan genetika
Uji kualitas sampel 2 dan di lanjutkan uji kuantitas


7
Rabu, 20 Mei 2015
Laboratorium biokimia, fisiologi hewan,  dan genetika
Uji kualitas sampel 3 dan dilanjutkan uji kuantitas