EFEKTIFITAS LAMA RENDAMAN KUNYIT
SEBAGAI PENURUN
KADAR FORMALI PADA IKAN ASIN
MINI RISET
Disusun Oleh :
Lailatul Munawaroh (14620085)
Achmad Rifky Alfian (14620086)
Maslahatul Ummah (14620097)
Malang, 01 juni 2015
|
Mengetahui
|
Telah
Disetujui Oleh
|
|
Ketua
Jurusan Biologi
|
Pembimbing
|
|
Dr.
Evika Sandi Savitri
|
Ria Ramadhani, S. Kep, Ners.
|
|
NIP.
19741018200312 2 002
|
NIP.
19850617200912 2 005
|
ABSTRAK
Kesehatan adalah
hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.Pada
era global ini banyak dijumpai masalah yang berkaitan tentang kesehatan,
masalah kesehatan di masyarakan pada zaman sekarang adalah bersumber dari pola
makan yang sangat tidak sehat. Makanan dalam
kehidupan sehari-hari sangatlah beragam dan banyak pula bahan tambahan yang
dicampurkan, seperti bahan pengawet, pemanis, dan penyedap.Bahan-bahan tersebut
diketahui dari bahan kimia yang berbahaya bagi yang mengonsumsinya. Pengawet
yang biasa digunakan oleh banyak pengelolah produk makanan baik tradisional
atau modern adalah formalin. Adapun tujuan dari miniriset yang dilakukan yaitu memaparkan kadar formalin pada ikan asin sebelum
perlakuan, memaparkan
kadar formalin pada ikan asin sesudah dilakukan perlakuan, memaparkan
kunyit dapat mengurangi kadar formalin pada ikan asin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan pengaruh
faktor penyimpanan (2,4, dan 6 hari) dengan
perlakuan pemberian kunyit 10%. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa efektifitas kunyit sebagai pereduksi formalin pada ikan asin
berada pada rentan penyimpanan sebelum perlakuan hingga 2 hari
kemudianmenunjukkan penurunan nilai
absorbansi dengan panjang gelombang 520 nm dari 0, 832 menjadi 0,332.Kadar formalin
yang terkandung pada ikan asin yang di peroleh dari 3 pedagang yang berbeda di
pasar Merjosari adalah sampel A dan B tidak mengandung formalin, karena tidak
ada perubahan warna ungu pada pengujian. Sedangkan, pada sampel C terbukti mengandung
formalin karena satelah pengujian, larutan berubah menjadi warna ungu dan diuji
pada spektofotometer menunjukkan nilai absorbansinya
0,832.Kadar
formalin setelah perendaman dengan larutan kunyit mengalami penurunan kuantitas
formalin yang terkandung dalam ikan asin, hal ini dibuktikan dengan menggunakan
spektrofotometer digital.Akan tetapi, dalam
penyimpanan mengalami kenaikan dan penurunan, pada sampel 1= 0,332, 2= 0,741,
3=0,539. Hal ini disebabkan karena zat aktif pada hari ke hari akan menurun dan
pemakaian kuvet yang tidak sekali pakai. Kunyit dapat menurunkan kadar formalin dengan
memanfaatkan zat aktif saponin yang ada di kunyit, dengan cara merubah struktur
kimia bahan makanan.
Kata kunci: kunyit, formalin, ikan asin
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan
adalah hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Pada era global ini banyak sekali masalah
yang berkaitan tentang kesehatan, masalah kesehatan di masyarakan pada zaman
sekarang adalah bersumber dari pola makan yang sangat tidak sehat. Berbeda dengan zaman dahulu yang makanannya tidak banyak mengandung bahan kimia dan hanya dari
hasil pertanian dan perikanan, dan semua hasil pertanian dan perikanan dihasilkan
tanpa bahan kimia sedikit pun. Berdasarkan hal-hal tersebut masyarakat zaman dahulu terkenal dengan
umur panjangnya dan tidak ditemukan penyakit yang beragam seperti sekarang.
Makanan dalam kehidupan
sehari-hari sangatlah beragam dan banyak pula bahan tambahan yang dicampurkan, seperti bahan pengawet, pemanis, dan
penyedap.Bahan-bahan tersebut diketahui dari bahan kimia yang berbahaya bagi
yang mengonsumsinya. Pengawet yang biasa digunakan oleh banyak pengelolah
produk makanan baik tradisional atau modern adalah formalin. Sejatinya formalin
adalah pengawet yang digunakan untuk mayat atau pun dalam praktikum yang
membutuhkan media pengawetan seperti hewan dan tumbuhan. Sifat formalin
teratogenic rumus kimia dari formalin adalah CH2O, bentuk iritating
odor, cair, tidak berwarna (bening)bahaya formalin dapat menimbulkan kanker
(karsinogenik). Faktanya, masih banyak ditemukan ikan yang mengandung formalin
di masyarakat.
Makanan yang sering dikonsumsi oleh
masyarakat salah satunya adalah ikan asin. Ikan asin adalah bahan makanan yang
terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan
metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat
dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun
biasanya harus ditutup rapat. Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung
protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh,
disamping itu nilai biologisnya mencapai 90 persen, dengan jaringan pengikat
sedikit sehingga mudah dicerna ( Margono, 1993).
Pengetahuan masyarakat tentang
bahan-bahan kimia juga menjadi kendala dalam hal ini. Masyarakat hanya
mengetahui apa yang di konsumsi, namun tidak mengetatahui apa yang terkandung
dalam makanan yang di konsumsinya. Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi
seperti adanya televisi, koran dan internet masyarakat mulai mengatahui tentang
bahan-bahan kimia yang ada pada makanan mereka dan bahan itu berbahaya.
Formalin adalah salah satu bahan yang sering digunakan dalam pembuatan mekanan
dan kebanyakan digunakan pada bahan makanan yang mudah membusuk seperti ikan,
dan pemberian formalin pada ikan yang di lakukan oleh masyarakat sangat tidak
sesuai dengan standar konsumsi.Hal tersebut sangat berbahaya dalam kesehatan
manusia.Maka digunakan kunyit sebagai alternatif penurun kandungan formalin
pada makanan, karena mudah didapatkan dan harganya juga terjangkau.
Untuk
mengurangi adanya kandungan formalin dalam makanan khususnya ikan adalah dengan
menggunakan bahan yang ada di sekitar masyarakat sendiri, yaitu dengan
mengguakan kunyit sebagai penetralnya.Namun banyak masyarakat yang tidak
mengetahui temtang khasiat kunyit yang begitu dahsyatnya.Oleh karena itu
dibutuhkan upaya untuk merubah struktur kimia bahanmakanan, sehingga kandungan
formalin pada udang dapat berkurang dan layakdikonsumsi manusia.Salah satunya
dengan memanfaatkan zat aktif yang ada padakunyit yang mengandung senyawa
saponin.Hal ini sesuai dengan pendapatGunawan (2004), saponin adalah suatu
glikosida yang mungkin ada pada banyakmacam tumbuhan.Saponin terdiri dari
sapogenin yaitu bagian yang bebas dariglikosida yang disebut juga “aglycone”
dan sapogenin yang mengikat sakarida.Karena sapogenin bersifat lipofilik serta
sakarida bersifat hidrofilik maka saponinbersifat amfifilik (amphiphilic atau
surfactant properties).Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam miniriset
ini Mahasiswa mengambil judul “Efektifitas
Lama Rendaman Larutan Kunyit sebagai Penurun Kadar Formalin pada Ikan Asin”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan
masalah pada miniriset yang dilakukan sebagai berikut.
1. Apakah
ada formalin pada ikan asin sebelum dilakukan perlakuan?
2. Berapakah
nilai absorbansi pada ikan asin sesudah dilakukan perlakuan?
3.
Apakah kunyit dapat menurunkan kadar formalin pada ikan asin?
1.3
Tujuan
Tujuan
dari miniriset yang dilakukan sebagai berikut.
1. Memaparkan
adanya formalin pada ikan asin sebelum perlakuan.
2. Memaparkan
nilai absorbansi pada ikan asin sesudah dilakukan perlakuan.
3. Memaparkan
kunyit dapat menurunkan kadar formalin
pada ikan asin.
1.4 Manfaat
Manfaat
yang dapat di ambil dari miniriset yang di lakukan sebagai berikut.
1.
Masyarakat dapat mengaplikasikan kunyit
yang merupakan bahan yang sangat mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal,
dan merupakan bahan yang familiar dalam pelbagai masakan yang bermanfaat
sebagai pengurang kadar formalin.
2.
Mahasiswa dapat terinspirasi akan
manfaat kunyit sebagai penurunan kadar formalin pada makanan.
BAB
II
DASAR
TEORI
2.1 Kunyit
Kunyit
termasuk salah satu tanaman rempah dan obat, habitat asli tanaman ini meliputi
wilayah Asia khususnya Asia Tengggara.Hampir setiap bangsa Asia pernah
mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu,
untuk menjaga kesehatan dan kecantkan. Kunyit menggandung senyawa yang
berkhasiat sebagai obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin,
desmetoksitikumin, bisdesmetoksikurkumin dan zat-zat bermanfaat lainnya seperti
minyak atsiri yang terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon,
zingiberen, Vitamin C dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan
kalsium (Arisandi, 2008).
Habitus
berupa semak dengan tinggi ±70 cm. Batang semu, tegak, bulat, membentuk
rimpang.Berwarna hijau kekuningan.Daun tunggal, berbentuk lanset
memanjang.Helai daun tiga sampai delapan.Ujung dan pangkal daun runcing, tepi
rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm. Pertulangan daun menyirip.Daun berwarna
hijau pucat.Bunga majemuk, berambut, bersisik.Panjang tangkai 16-40 cm. Panjang
mahkota ±3 cm, lebar ±1±cm, berwarna kuning.Kelopak silindris, bercangap tiga,
tipis dan berwarna ungu.Pangkal daun pelindung putih. Akar berupa akar serabut
dan berwarna coklat muda (Napitupulu et al, 2008)
Nama daerah : Kakunye
(enggano); Kunyet (Adoh); Kuning (Gayo); Kunyit (alas); Hunik (Batak); Odil
(Simalur); Undre (nias); Kunyit (Lampung); Kunyit (Melayu); Kunyir (Sunda);
Kunir (Jawa Tengah); Temo Koneng (Madura); Kunit (Banjar); Henda (Ngayu);
Kunyit (Olon Manyan); Cahang (Dayak); Panyambung Dio (Panihing); Kalesiau
(Kenya); Kunyit (Tidung); Kunyit (Sasak); Huni (Bima); Kaungi (Sumba Timur);
Kunyi (Sumba Barat); Kewunyi (Sawu); Koneh (Flores); Kuma (Solor); Kumeh
(Alor); Kunik (Roti); Hunik Kunir (Timor); Uinida (Talaud); Kuni (Sangir);
Alawaha (Gorontalo); Kolalagu (Buol); Pagidon (Toli-toli); Kuni (Toraja); Kunyi
(Ujungpandang); Kunyi (Selayar); Unyi (Bugis); Kuni (Mandar); Kurlai (Leti);
Lulu Malai (Babar); Ulin (Tanimbar); Tun (Kayi); Unin (Ceram); Kunin (Seram Timur);
Unin (ambon); Gurai (Halmahera); Garaci (Ternate); Rame (Kapaur); Kandeifa
(Nufor); Nikwai (Windesi); Mingguai (Wandamen); Yaw (Arso) (Napitupulu et al,
2008).
2.2
Klasifikasi kunyit (Curcuma domestica Val.)
Kingdom
: plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas :
Monocotyledoneae
Ordo :
Zingiberales
Famili :
Zungiberaceae
Genus :
Curcuma
Species
:CurcumadomesticaVal.
(Tjitrosoepomo,2010)
2.3 Kandungan Kunyit
Saponin merupakan
senyawa glikosida triterpenoida ataupun glikosida steroida yang merupakan
senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun serta dapat dideteksi
berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisa sel darah merah. Pola
glikosida saponin kadang-kadang rumit, banyak saponin yang mempunyai satuan
gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukuronat (Harborne, 2006).
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin.
Saponin tersebar luas di antara tanaman tinggi, keberadan saponin sangat mudah
ditandai dengan pembentukan larutan koloidal dengan air yang apabila dikocok menimbulkan buih yang stabil. Saponin
merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan dapat menyebabkan bersin dan
bersifat racun bagi hewan berdarah dingin, banyak di antaranya digunakan
sebagai racun ikan (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Senyawa saponin dapat pula diidentifikasi dari
warna yang dihasilkannya dengan pereaksi Liebermann-Burchard. Warna biru-hijau
menunjukkan saponin steroida, dan warna merah, merah muda, atau ungu
menunjukkan saponin triterpenoida (Farnsworth, 1966) Saponin memiliki berat
molekul tinggi, dan berdasarkan struktur aglikonnya, saponin dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu tipe steroida dan tipe triterpenoida. Kedua senyawa
ini memiliki hubungan glikosidik pada atom C-3 dan memiliki asal usul
biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid
(Gunawan dan Mulyani, 2004).
Tipe aglikon senyawa saponin dapat dilihat
pada gambar dibawah ini (Farnsworth, 1966):
a. Saponin Steroida
Saponin steroida
terdapat pada tumbuhan monokotil maupun dikotil, contohnya diosgenin yang
terdapat pada Dioscorea hispida, dan hecogenin yang terdapat pada Agave
americana(Gunawan dan Mulyani, 2004).
![]() |
|||
![]() |
|||
b. Saponin Triterpenoida
Saponin triterpenoida banyak
terdapat pada tumbuhan dikotil seperti: gipsogenin terdapat pada Gypsophylla
sp., dan asam glisiretat terdapat pada Glycyrrhiza glabra (Gunawan
dan Mulyani, 2004).
![]() |
2.4 Formalin
2.4.1
Struktur Formalin
Menurut Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dr. Leonardus
Broto Kardono, formalin pada mulanya berbentuk padat dengan sebutan
formaldehida atau istilah asingnya ditulis formaldehyde. Zat yang sebetulnya
banyak memiliki nama lain berdasarkan senyawa campurannya ini memiliki senyawa
CH2OH yang reaktif dan mudah mengikat air. Bila zat ini sudah bercampur dengan
air dia disebut formalin yang memiliki rumus kimia CH2O.Gambar di bawah ini
menunjukan struktur formalin.Bahan
formalin yang banyak ditemukan di pasar umumnya mempunyai konsentrasi
37%-40%. Formalin mempunyai fungsi sebagaiantibacterial agent dapat
memperlambat aktivitas bakteri dalam makanan yang mengandung banyak protein,
maka formalinbereaksi dengan protein dalam makanan dan membuat makanan menjadi
awet. Tapi ketika masuk kedalam tubuh
manusia, makaia bersifat mutagenik dan karsiogenik yang dapat memicu
tumbuhnya sel kanker dan cacatnya gen pada tubuh (Mahdi, 2008).
Struktur
Formalin (Fluka, 2001)
Menurut IPCS
(International Programme on ChemicalSafety), lembaga khusus dari tiga
organisasi di PBB, yaitu ILO,UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada
keselamatanpenggunaan bahan kimiawi, secara umum disebutkan bahwabatas
toleransi formaldehida yang dapat diterima tubuh dalambentuk air minum adalah
0,1 mg/liter (1 ppm setara 1 mg/liter)atau dalam satu hari asupan yang
dibolehkan adalah 0.2 mg.Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam
bentukmakanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg perhari. National
Institute for Occupational Safety and Health(NIOSH) menyatakan formaldehida
berbahaya bagi kesehatanpada kadar 20 ppm. Sedangkan dalam Material Safety Data
Sheet (MSDS), formaldehida dicurigai bersifat kanker (Fluka, 2002).
Mekanisme penarikan
kadar formalin yaitu, ketika formalin dan protein ikan asin membentuk ikatan
silang yang sulit dipecah dan kemudian direndam pada larutan kunyit, formalin
tersebut akan terangkat oleh senyawa saponin yang terkandung pada larutan
kunyit. Formalin tersebut terangkat oleh senyawa saponin, maka saponin akan
larut dan membentuk misel. Bagian yang berbentuk bulat mengarah keluar
merupakan bagian kepala dan kemudian berinteraksi dengan air (bersifat polar),
sehingga formalin tersebut dapat terlarut bersama air. Hal ini terjadi karena
kemungkinan keberadaan dua gugus yang terdapat pada surfaktan (polar dan non
polar) dalam senyawa saponin yang memiliki kemampuan untuk mengemulsi air dan
formalin (Damayanti, 2014).
2.4.2
Pengertian Formalin
Formalin adalah larutan
yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.Di dalam formalin mengandung
sekitar 37% formaldehid dalam air, biasanya ditambah methanol dalam sehingga
15% sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan)
dan banyak digunakan dala Industri. Nama lain dari formalin adalah formol, Methylene aldehyde, Paraforin,
Morbicid, Oxomethane, Polyxymethylene glycols, Methanal, Formoform,
Superlysoform, Formadhehyde, dan Formalith (Astawan dan
Made, 2006). Berat molekul Formalin adalah 30,03 dengan rumus molekul HCOH.
Karena kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya kedalam sel
tubuh.Gugus karbonil yang dimilikinya
sagat aktif, dapat bereaksi dengan gugus –NH2 dari protein yang ada pada tubuh
membentuk yang ada pada tubuh membentuk senyawa yang mengendap (Harmita,2006).
Penggunaan formalin antara lain sebagai pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai
pembersih lantai, gudang, pakaian dan kapal, pembasmi lalat dan serangga
lainya, pembuatan sutera buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak.
Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin.
Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formalin.
Formalin biasa ditemukan dipasaran dalam bentuk yang sudah diencerkan dengan
kandungan formalin 10-40% (Arif, 2011) bahan pembentuk pupuk berupa urea, bahan
pembentuk produk parfum, bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku,
pencegah korosi untuk sumur minyak, bahan untuk isolasi busa, bahan perekat
untuk produk kayu lapis (playwood). Untuk konsentrasi yang sangat kecil
(<1%) digunakan sebagagai pengawet, pembersih rumah tangga, cairan pencuci
piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet (Astawan dan Made
2006).
2.4.3
Dampak Formalin
Beberapa akibat yang ditimbulkan oleh formalin
yaitu (nikita, 2011) :
1. Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan
tenggorokan, sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan
kanker paru-paru.
2. Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan
kulit terbakar.
3. Jika terkena mata akan menyebabkan mata kemerah, gatal, kerusakan mata,
pandangan kabur, bahkan kebutaan.
4. Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih,
diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf,
kulit membiru, hilangan pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.
Ambang batas aman
Formalin di dalam tubuh menurut IPCS (International Programme on Chemical
Safety) lembaga khusus PBB yang bertugas mengontrol keselamatan penggunaan
bahan kimiawi, dalam bentuk cairan adalah 1 miligram per liter, sedangkat orang
dewasa adalah 1,5-14 mg/hari (Wisnu, 2006).
Banyaknya penggunaan formalin oleh produsen ikan asin karena ada
beberapa keuntungan yaitu ikan asin dengan formalin menjadi tidak lembek, tidak
mudah rusak, tidak menyengat baunya dan warna ikan tampak lebih bersih. Hal
tersebut menyebabkan ikan asin menjadi lebih awet sehingga waktu penyimpanan
dan penjualan ikan asin dapat lebih lama lagi(Widyaningsih,2006).
Penggunaan
formalin sebagai pengawet makanan dilarang di Indonesia, hal ini dinyatakan
pada peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1168/Menkes/Per/X/1999
yang diperbaharui dari peraturan Mentri KesehatanRepublik Indonesia No.722/Menkes/Per/IX/1988
peraturan Mentri Perindustrian Nomor: 24/M-Ind/Per/5/2006 dan peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 (Nadya,2014).
2.4.4
Pengertian Pengeringan dan Pengaruhnya Terhadap Bahan
Pengeringan adalah
suatu metode untuk mengeluarkan ataumenghilangkan sebagian air dari suatu bahan
pangan dengan caramenguapkan air tersebut. Pada umunya kadar air bahan
dikurangi sampaibatas tertentu supaya pertumbuhan mikroorganisme pembusuk
dapatdihentikan (Winarno et. al, 1982).
Proses pengeringan
didasarkan pada penguapan air, karena adanyaperbedaan kandungan uap air antara
udara dan produk yang dikeringkan.Kandungan uap air udara lebih rendah
dibandingkan dengan kadar air dalamtubuh ikan sehingga terjadi proses
penguapan. Adapun faktor-faktor yangmempengaruhi kecepatan pengeringan ikan
adalah kecepatan udara (angin),kelembaban udara, suhu udara, serta keadaan
fisik dan kimia ikan (Moeljanto,1982).
Icho (2001) lebih
lanjut memberi penjelasan untuk mendapatkan mutuikan asin yang baik memerlukan
persyaratan bahan yang digunakan (ikan dan garam) serta cara pengolahannya. Hal
ini dipengaruhi oleh beberapa faktorseperti kesegaran, kandungan dan ketebalan
ikan serta kehalusan, kemurniandan kepekatan garam.
Keuntungan dari
pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet artinyakadar air mempunyai kaitan
erat dengan keawetan bahan pangan yaitu bahanpangan yang berkadar air rendah
akan lebih awet dibandingkan yang berkadarair tinggi . Hal ini terjadi karena
dalam proses enzimatis dan kimiawi sertapertumbuhan bakteri diperlukan sejumlah
air. Turunnya kadar air yang adadalam suatu bahan akan memberi kemungkinan
berkurangnya kebusukan darimakanan tersebut. Sedangkan kerugiannya bahan
mengalami kerusakankarena serangga, reaksi pencoklatan/browning dan jamur (Indriati
et.al, 1991).
Selanjutnya Winarno
et.al (1980) menjelaskan bahwa pengeringanakan menyebabkan turunnya nilai
nutrisi bahan, karena biasanya produkyangdihasilkan telah mengalami proses
pendahuluan seperti pencucian danpenggaraman.
Bahan yang dikeringkan
akan memiliki nilai gizi yang relatif lebih rendah dibandingkan bahan segarnya.
Menurut Poernomo et.al (1984) menyebutkan komposisi kimia ikan mengandung air
42,96%, abu 18,27%, garam 14.51%, protein 33.11%, lemak 5.36%, karbohidrat
3.07% dan kalori/gram 1.52%. Sedangkan komposisi kimia produk perikanan asin
kering mengandungair 42%, abu 17.14%,
garam 13.43%, protein 35.58%, lemak 4.60%,karbohidrat 4.41% dan kalori/gram
1.61%. Selain itu selama pengeringan, bahan akan mengalami perubahan tekstur,
aroma dan warna. Perubahanwarna yang dimaksud adalah perubahan warna menjadi
coklat akibat reaksi pencoklatan non enzimatis. Reaksi pencoklatan ini akan
terus berlangsung selama penyimpanan produk dalam waktu yang lama. Subroto
et.al (1990)dalam Indriati et.al (1991) memperkirakan reaksi pencoklatan
terjadi karenareaksi antara protein, peptida dan asam amino dengan hasil
dekomposisi lemak. Reaksi ini diketahui menurunkan nilai gizi protein yang
bersangkutan dengan cara menurunkan nilai cernanya dan menurunkan ketersediaan
asamamino essensial terutama lysin.
2.4.5.
Pengertian Ikan Asin
Ikan asin adalah bahan
makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak
garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam
waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan,
walaupun biasanya harus ditutup rapat. Ikan sebagai bahan makanan yang
mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan
oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90 persen, dengan jaringan
pengikat sedikit sehingga mudah dicerna ( Margono, 1993).
Penggunaan
formalin oleh para produsen ikan asin dikarenakan cara produksinya masih
manual, pengeringan ikan masih sangat tergantung dari cuaca. Kalau musim hujan,
pengeringan bisa berhari-hari. Begitu air hujan turun, para menutupi ikanikan yang
tengah dijemur itu dengan plastic agar tidak basah. Jika proses penjemuran kurang
sempurna, bahan makanan akan mudah ditumbuhi jamur. Bahan makanan menjadi mudah
penyok dan hancur, terutama apabila cara pengemasannya tidak rapi dan harus
dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku di pasaran.
Dengan membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk makanan maka ikan tidak
ditumbuhi jamur dan lebih awet. Pemakaian formalin juga dipercaya dapat
mempercepat proses pengeringan dan membuat tampilan fisik tidak cepat rusak
(Hastuti,2010).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan
penelitian
Penelitian mini
riset ini menggunakan jenis penelitian eksperimental yaitu menguji lama
rendaman kandungan kunyit terhadap penurunan kadar formalin pada ikan asin yang
diambil 3 sampel dari pedagang dan jenis ikan asin yang berbeda di Pasar
Merjosari.
3.2
Populasi dan Sampel
Sampel
yang digunakan dari tiga jenis ikan asin dan pedagang yang yang berbeda, yang
didapat dari Pasar Merjosari Malang, kemudian dari tiga sampel tersebut
masing-masing diambil 1 gr.
3.3
Waktu dan Tempat
Miniriset
kali ini dengan judul “Efektifitas Lama rendaman Larutan Kunyit(Curcuma Domestica.) Sebagai
Penurunan Kadar Formalin Pada Ikan Asin”,dilaksanakan pada hari selasa pukul
09.00-11.00 yang bertempat di laboratorium Biokim Jurusan Biologi, Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.4 Alat dan Bahan
3.4.1 Alat-Alat
Pada praktikum kali ini mengenai “Efektifitas Lama rendaman Larutan Kunyit (Curcuma Domestica) sebagai
Penurunan Kadar Formalin pada Ikan Asin” menggunakan alat-alat sebagai berikut.
|
1.
Beaker
glass 100 ml sejumlah 1 buah
|
|
2.
Erlenmeyer sejumlah 3 buah
|
|
3.
Gelas ukur 50 ml sejumlah 1 buah
|
|
4.
Hot
platesejumlah 1 buah
|
|
5.
Timbangan sejumlah 1 buah
|
|
6.
Spektrofotometer sejumlah 1 buah
|
|
7.
Cuvet
sejumlah 4 buah
|
|
8.
Kulkas sejumlah 1 buah
|
|
9.
Pipet
tetes sejumlah 2 buah
|
|
10.
Pengaduk
kaca sejumlah 1 buah
|
|
11.
Tabung
reaksi sejumlah 3 buah
|
|
12.
Porselen sejumlah 2 buah
|
|
13.
Corong gelas sejumlah 1 buah
|
|
14.
Tabung flacon sejumlah 3 buah
|
3.4.2 Bahan-Bahan
Pada praktikum kali ini
mengenai “Efektifitas Lama rendaman
Larutan Kunyit (Curcuma Domestica.)Sebagai
Penurunan Kadar Formalin Pada Ikan Asin” menggunakan bahan-bahan sebagai
berikut.
|
1.
Ikan Asin sebanyak 16 gram
|
|
|
2.
Kunyit sebanyak 1 ons
|
|
|
3.
Aquades sebanyak 60 ml
|
|
|
4.
Teskit formalin sebanyak 6 ml
|
|
3.5 Langkah kerja
3.5.1 Pengujian secara Kulitatif
Ikan asin yang digunakan adalah dibeli dari 3
padagangdan jenis ikan asin yang berbeda di pasar Merjosari yang dicurigai
mengandung formalin, jenis ikan yang di gunakan jenisnya berbada-beda, berikut
adalah cara kerja pengujian secara kualitatif untuk mengetahui adanya kandungan
formalin pada ikan asin.
1. Ditimbang
sampel (A,B,C) masing-masing sebanyak 1 gram.
2.
Dimasukkan aquades dalam beaker glass
sebanyak 10 ml,kemudian dididihkan
dengan suhu 200oC
3.
Dimasukkan bahan yang diuji
keerlenmeyer, lalu direndam dengan aquades yang mendidih
4.
Dimasukkan teskit formalin 1 ml dan
dihomogenkan.
5. Ditunggu
sampai berubah warna menjadi ungu
3.5.2 Pembuatan Larutan Kunyit 10%
Kandungan saponin pada kunyit mengubah struktur
kimia pada makanan, sehingga dapat menurukan kadar formalin. Dibutuhkan larutan
kunyit sebagai media perendaman bagi ikan asin yang mengandung formalin.Larutan
kunyit yang dibutuhkan konsentrasi terbaik yakni 10% (Wikanta,
2011).
Berikut cara pembuatannya,
1.
Di ambil 1 ons
kunyit dan di cuci bersih
2.
Di kupas
kunyit, di tumbuk hingga halus dan diperas tanpa pelarut
3.
Diambil aquades 9 ml dan larutan kunyit
1 ml dengan pipet
4.
Dimasukkan ke dalam tabung flacon
5. D
homogenkan
3.5.3 Pengujian secara kuantitatif
Pengujian kuantitatif untuk sampel ikan asin yang
telah terbukti mengandung formalin yakni sampel C. Maka perlakuan perendaman
dilakukan pada sampel C, sehingga mendapatkan hasil sampel 1,2 dan 3. Berikut
cara kerjanya.
1. Di
timbang sampel C masing-masing 1 gramsebanyak tiga kali
2. Di
masukkan masing-masing bahan ke dalam tabung flacon menghasilkan tiga sampel
3. Diambil
larutan kunyit dan dimasukkan
padamasing-masing tabung flacon
4. Dimasukkan
ke dalam kulkas 3 sampel
dengan suhu 20C untukdapat
memperpanjang
daya tahan daging sampel
5.
Di uji sampel setelah hari ke 2, 4, dan
6 menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 520 nm.
3.6 Penggunaan Alat
3.6.1 Hot Plate
Hot
plate digunakan untuk memanaskan aquades untuk uji kualitatif. Cara penggunaan
hot plate adalah sebagai berikut.
1.
Dipastikan
kabel terhubung pada sumber arus
2. Diputar tombol on/ off untuk memanaskan. Diputar ke arah kanan
untuk menaikkan suhu.
3. Diletakkan sampel yang akan dipanaskan tepat pada posisi
dasar hot plate
4. Dimatikan hot plate dengan diputar tombol on/ off bila
selesai penggunaan
5.
Dicabut
kabel dari sumber arus listrik.
3.6.2 Penggunaan
Spektrofotometer
Spektofotometer
digunakan untuk uji kuantitatif. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut.
1. Dipastikan kabel terhubung pada sumber arus
2. Ditekan tombol on untuk menghidupkan spektrofotometer,
ditunggu proses pembacaan
3.
Ditekan
tombol λ
4. Dipilih angka dari 1 sampai 8 berdasarkan jumlah zat yang
diabsorbansi
5. Dimasukkan nilai panjang gelombang
sebesar 520 nm
6. Dimasukkan sample pada cuvet, dengan sisi terang
menghadap tanda panah yang ada disamping lubang sample
7. Dimasukkan blanko (pelarut) dan ditekan tombol read blank
8. Dikeluarkan blanko setelah terbaca absorbansinya.
Selanjutnya sample di masukkan dengan menekan tombol read sample.
9. Dikeluarkan sample setelah terbaca absorbansinya
10. Dilanjutkan dengan menekan tombol enter
11. Ditekan tombol off untuk mematikan spektrofotometer
12. Dicabut kabeldari sumber arus listrik.
BAB IV
HASIL
dan PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan Sebelum Perlakuan
Tabel 1
hasil pengujian kualitatif
|
No
|
Hari, Tanggal
|
Uji kualitas
|
||
|
1
|
Rabu, 13 Mei
|
A
|
B
|
C
|
|
Keruh
|
Keruh
|
Ungu pekat
|
||
4.1.1
Pembahasan
Praktikum miniriset kali ini dengan judul “Efektifitas
Lama rendaman Larutan Kunyit (Curcuma
Domestica) Sebagai Penurunan
Kadar Formalin Pada Ikan Asin” dengan tujuan untuk memaparkan kadar formalin pada ikan asin sebelum dan
sesudah dilakukan pelakuan, memaparkan perbedaan kadar formalin pada ikan asin
sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan, dan memaparkan kunyit dapat mengurangi
kadar formalin pada ikan asin. Beberapa alat yang digunakan seperti gelas beaker,
gelas ukur, pipet tetes, erlenmeyer,
pengaduk kaca,
spektofotometer, dan bahanya menggunakan
ikan asin, kunyit, aquades dan larutan testkit formalin (untuk mendeteksi
adanya formalin). Pada gambar 1 adalah ikan asin yang didapat dari 3 pedagang
dan jenis ikan asin yang berbeda di pasar Merjosari. Sampel Ikan asin A, B, dan
C selanjutnya ditimbang masing-masing 1
gram.
![]() |
![]() |
![]() |
|||
A B C
Gambar 1 sampel ikan asin
Langkah awal untuk memulai miniriset kali ini adalah
mencari bahan ikan asin di Pasar Merjosari malang dengan tiga sampel dari
penjual yang berbeda-beda. Ketiga sampel tadi ditandai dengan abjad A, B, dan
C. Kemudian diuji untuk mendeteksi adanya formalin dalam ikan asin tersebut,
dengan dua kali pengujian yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Uji
kualitatif dilakukan terhadap tiga sample diatas, diawali dengan mengambil 1
grbahan ikan asin dan dimasukkan pada
erlenmeyer, kemudian 10 ml aquades dididihkan dengan menggunakan hot plate
dengan suhu 200oC. Setelah mendidih aquades dimasukkan erlenmeyer
yang didalamnya terdapat bahan 1 gr ikan asin, selanjutnya dihomogenkan
kemudian ditetesi 1ml larutantestkit dengan komposisi pewarna pararosanilin dan larutan asam klorida yang berfungsi untuk mendeteksi adanya formalin dalam
ikan asin tersebut, ditunggu 15 menit sehingga berubah warna menjadi ungu,
warna ungu menunjukkan adanya larutan formalin didalamnya, semakin ungu warna
yang didapat maka semakin banyak pula larutan formalin yang terkandung di
dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sri Hastuti(2010), bahwa produk yang
mengandung formalin akan ditunjukkan dengan berubahnya warna air dari bening
menjadi merah muda hingga ungu. pengujian terhadap 3 sampel untuk
membandingkan sampel mana yang
mengandung formalin diantara 3 sampel tersebut. Diperoleh hasil pada miniriset ini adalah
warna ungu pada sampel ikan asin C .Perbandingan hasil antara ke tiga sampel dapat dilihat pada
gambar 2.

Gambar
2 perbandingan hasil kualitatif sampel A,B, dan C
Tabel 2 uji kualitatif dan
kuantitatif sebelum perlakuan
|
No
|
Hari, Tanggal
|
Uji Kualitatif
|
Uji Kuantitatif
|
|
1
|
Rabu, 13 Mei
|
Ungu Pekat
|
Blangko = 0,000
Sampel = 0,832
|
Tebel 2 adalah hasil dari uji
kualitatif dan kuantitatif.Uji kualitatif ditandai dengan perubahan warna yang
bereaksi ketika ditambahkan larutan teskit formalin.Sedangkan uji kuantitatif
dilakukan dengan alat spektofotometer yang menghasilkan angka
(absorbansi).Angka tersebut di peroleh dari panjang gelombang yang warna, dalam
hal ini digunakan panjang gelombang berwarna ungu.dengan cara sampel yang mengandung formalin diambil
larutannya dan dimasukkan pada tabung cuvetselanjutnya diuji dengan alat
spektrofotometer danmenghasilkan nilai absorbansi sebesar 0,832.
Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 3 dan gambar 4.

Gambar 3 sampel C di dalam kuvet
Gambar 4 spektrofotometer
4.2 Hasil
pengamatan Sesudah Perlakuan
4.2.1 Pembahasan
Bahan
yang digunakan sebagai pereduksi formalin dalam ikan asin yaitu kunyit. Untuk dapat mereduksi zat kimia formalin
pada makanan, dibutuhkan upaya untuk merubah struktur kimia, sehingga kandungan
formalin pada ikan asin dapat berkurang dan layak dikonsumsi manusia. Salah
satunya dengan memanfaatkan zat aktif yang ada pada kunyit yang mengandung
senyawa saponin. Hal ini sesuai dengan
pendapat Gunawan (2004), saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada
banyak macam tumbuhan. Saponin terdiri dari sapogenin yaitu bagian yang bebas
dari glikosida yang disebut juga “aglycone” dan sapogenin yang mengikat
sakarida. Karena sapogenin bersifat lipofilik serta sakarida bersifat
hidrofilik maka saponin bersifat amfifilik (amphiphilic atau surfactant
properties).
Larutan kunyit yang dibutuhkan adalah 10 %.Hal ini diperkuat dari pendapat Wikanta (2011), bahwa
larutan kunyit yang mempunyai kosentrasi terbaik dari berbagai konsentrasi (
0%, 10%, 20%, dan 30%) yaitu berkonsentrasi 10%.Cara pembuatan larutan tersebut
adalah diambil 1 ons kunyit segar, kupas dan cuci hingga bersih.
Selanjutnya haluskan kunyit dengan porselen hingga halus, setelah halus peras
kunyit dengan seringan agar ampas tidak ikut dalam hasil larutan.Hal ini dapat di lihat pada gambar 5.



Gambar
5 pembuatan larutan kunyit
Cara membuat larutan kunyit 10 % adalah dengan mengambil 1 ml larutan kunyit
dan 9 ml aquades dengan pipet, masukkan ke dalam tabung flacon dan dihomogenkan
agar tercampur antara larutan kunyit dan aquades. Disiapkan 3 tabung flacon
karena akan dibuat 3 sampel yaitu sampel
1,2 dan 3.Masukkan 10 % larutan kunyit
pada masing-masing tabung flacon dan masukkan pula ikan asin yang mengandung
formalin (sampel C) sebanyak 1 gram pada masing-masing tabung flacon yang
berisi larutan kunyit.Hasil dari perlakuan tersebut dapat dilihat pada gambar
6.Kemudian, 3 sampel tadidisimpan
dalam lemari es dengan suhu 20C. Hal ini diperkuat pendapat Winarno
(1997), bahwa pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan diatas suhu pembekuan
yaitu 2-10°C. Pendinginan yang biasa dilakukan dalamlemari es umumnya mencapai
4-8°C. Penyimpanan daging pada suhu dingin dapatmemperpanjang daya tahan daging
karena pada suhu dingin aktifitasmikroorganisme dapat dihambat dan ditekan.
Gambar 6 sampel yang akan disimpan
4.2.2 Hasil
Pengujian Setelah Perendaman dengan Larutan Kunyit pada pada Sampel C
Tabel
3 Hasil Pengujian Setelah Perendaman
dengan Larutan Kunyit pada pada Sampel C
|
No
|
Hari, Tanggal
|
Lama Penyimpanan
|
Uji kualitas
|
Uji kuantitas
|
|
1
|
Jum’at, 15 Mei 2015
(Sampel 1)
|
2 Hari
|
Ungu bercampur kuning
|
Blangko = 0,000
Sampel = 0,332
|
|
2
|
Senin, 18 Mei 2015
(Sampel 2)
|
4 Hari
|
Ungu bercampur kuning
|
Blangko = 0,000
Sampel = 0,741
|
|
3
|
Rabu, 20 Mei 2015
(Sampel 3)
|
6 Hari
|
Ungu bercampur kuning
|
Blangko = 0,000
Sampel = 0,539
|
4.2.3
Pembahasan
Pengujian
kuantitatif terhadap kadar formalin pada ikan asin dilakukan selama 2, 4, dan 6
hari dengan dibuat 3 sampel yang kemudian direndam pada larutan kunyit
berkonsentrasi 10%. Untuk permulaan uji sebelum penyimpanan pada kulkas,
didapat sampel awal seperti pada gambar 3, berwarna ungu Pekat. Selanjutnya diukurblanko dan sampel
pada spektofotometer. Blanko yang du gunakan adalah pelarut
yaitu aquades. Panjang gelombang yang dugunakan adalah ungu yaitu 520 dan didapat nilai blangko = 0,000,dan sampel = 0,832.Hal
ini diperkuat oleh pendapat Hastuti (2010), bahwa absorbansi diukur dengan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 520 nm.
Kemudian
dilanjutkan pengujian pada sampel 1 yang telah disimpan pada kulkas selama 2 hari.Didapat
sampel 1 berwarna ungu bercampur kuning. Selanjutnya ikan asin
diambil dan dimasukkan pada tabung reaksi yang berisi air didihan. Kemudian
diteteskan teskit formalin dan dihomogenkan. Langkah ini dilakukan terhadap
sampel 2, dan 3.Selanjutnya diukur blanko dan sampel pada
spektofotometer dan didapat nilaiblangko 0,000, dansampel = 0,332. Selang 2
hari kemudian, dilakukan uji terhadap sampel 2, dan didapat sampel 2 berwarna ungu bercampur kuning dengan nilaiblangko =
0,000, dansampel = 0,741. Selang 2 hari kemudian, dilakukan uji terhadap sampel
3, dan didapat sampel 3 berwarnaungu bercampur kuning dengan nilaiblangko =
0,000, danSampel = 0,539.
4.2.4
Perbandingan Hasil Penyimpanan
Tabel 4 Perbandingan Hasil Penyimpanan
|
No
|
Nama
|
Massa sampel
|
Gambar
|
|
1
|
Sampel 1
(hari ke 2)
|
1
gram (sampel c)
|
![]() ![]() |
|
2
|
Sampel 2
(hari ke 4)
|
1 gram (sampel c)
|
![]() ![]() |
|
3
|
Sampel 3
(hari ke 6)
|
1 gram
(sampel c)
|
![]() ![]() |
4.2.5 Pembahasan
Hasil
yang didapatkan dari penyimpanan selama 2, 4, dan 6hari terdapat perbedaan
nilai yang didapatkan. Untuk hasil nilai pada hari ke 2 mengalami penurunan
nilai kadar formalin dari 0,832 menjadi 0, 332. Hal ini sesuai dengan pendapat
Damayanti (2014), bahwa Kadar residu formalin pada ikan asin dapat tereduksi
setelah direndampada larutan kunyit, karena hal ini terjadi reaksi kimia antara
formalin dengansaponin. Akan tetapi perlu diketahui, untuk nilai kadar formalin
antara hari ke 2 sampai hari ke 4 mengalami peningkatan. Hal ini kemungkinan
terjadi karena kesalahan serapan oleh kuvet , karena kuvet yang digunakan
berbahan dasar plastik. Hal ini diperkuat oleh pendapat Beran, J. A (1996),
bahwa kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa.
Dibandingkan dengan kuvet dari bahan gelas, kuvet kuarsa memberikan kualitas
yang lebih baik, namun tentu saja harganya jauh lebih mahal. Serapan oleh kuvet
ini diatasi dengan penggunaan jenis, ukuran, dan bahan kuvet yang sama untuk
tempat blangko dan sampel.Kesalahan ketiga fotometrik normal pada pengukuran
dengan absorbansi yang sangat rendah atau sangat tinggi. Hal ini dapat diatur
dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat
yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan). Akan tetapi antara hari ke
4 sampai hari 6 mengalami penurunan nilai kadar formalin. Paparan di atas menunjukkan bahwa
kerja larutan kunyit yang efektif sebagai pereduksi kadar formalin terjadi pada
hari ke 2 penyimpanan ikan asin di dalam kulkas.
Praktikum
miniriset ini menggunakan alat spektrofotometer. Fungsi alat spektrofotometer
dalam laboratorium adalah mengukur transmitans atau absorbans suatu contoh yang
dinyatakan dalam fungsi panjang gelombang. Prinsip kerja spektrofotometer
adalah bila cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium
homogen, sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian di serap dalam
medium itu, dan sisanya diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang
diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan
konsentrasi sampel. Studi spektrofotometri dianggap sebagai perluasan suatu
pemeriksaan visual yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Hukum Beer
menyatakan absorbansi cahaya berbanding
lurus dengan dengankonsentrasi dan ketebalan bahan/medium (Miller J.N 2000).
Unsur-unsur
terpenting suatu spektrofotometer adalah (1) Sumber energi radiasi yang kontinu
dan meliputi daerah spektrum, di mana alat ditujukan untuk dijalankan, (2)
Monokromator, yang merupakan suatu alat untuk mengisolasi suatu berkas sempit
dari panjang gelombang-panjang gelombang daru spektrum luas yang disiarkan oleh
sumber (tentu saja tepat monokromatisitas tidak dicapai), (3)Wadah untuk
contoh, kuvet yang terbuat dari kuarsa memeliki ketelitian yang tinggi,
(4) Detektor yang merupakan suatu transducer yang mengubahenergi
radiasi menjadi isyarat listrik, (5) Penguat dan rangkaian yang bersangkutan
yang membuat isyarat listrik cocok untuk diamati, (6) Sistem pembacaan yang
dapat mempertunjukkan besarnya isyarat listrik (Rohman. 2007).

Gambar
7 alat spektrofotometer
BAB
V
PENUTUP
5.1 Simpulan
1. Kadar
formalin yang terkandung pada ikan asin yang di peroleh dari pedagang di pasar
Merjosari adalah sampel A dan B tidak mengandung formalin, karena tidak ada
perubahan warna ungu pada pengujian. Sedangkan pada sampel C terbukti
mengandung formalin karena satelah pengujian, larutan berubah menjadi warna
ungu dan diuji pada spektofotometer menunjukkan nilai absorbansinya 0,832.
2. Kadar
formalin setelah perendaman dengan larutan kunyit mengalami penurunan kuantitas
formalin yang terkandung dalam ikan asin, hal ini di buktikan dengan
menggunakan spektofotometer. Akan
tetapi,
dalam penyimpanan mengalami kenaikan dan penurunan, pada sampel pertama =
0,332, kedua = 0,741, dan ketiga =0,539. Hal ini disebabkan karena zat aktif
pada hari ke hari akan menurun. Akan tetapi pemakaian kuvet yang tidak sekali
pakai akan berpengaruh pada hasil yang diperoleh. Masing-masing sampel
dilakukan sekali pembacaan.
3.
Kunyit
dapat menurunkan kadar formalin dengan memanfaatkan zat aktif saponin yang ada
di kunyit, dengan cara merubah struktur kimia bahan makanan
dengan menarik formalin dari bahan makanan.
5.2
Saran
Berdasarkan
penelitian mini riset yang dilakukan, maka perlu adanya perbaikan, karena dalam
mini riset ini ditemukan hasil yang tidak sesuai dengan literatur
acuan.Sehingga, bagi peneliti selanjutnya disarankan agar menguasai teknik dan
teliti dalam melakukan eksperimen, sehingga diperoleh hasil yang diharapkan,
dan diharapkan untuk mengembangkan penelitian yang serupa untuk pemanfaatan
sumber daya alam yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Arisandi, Y dan
Yovita A. 2008.Khasiat Tanaman Obat.
Pustaka buku merah.
Astawan, Made,
2004.Ikan Yang Sedap dan Bergizi. Solo: Pustaka Mandiri
Beran, J.A. 1996. Chemistry in
The Laboratory. John Willey & Sons.
Damayanti, E., Ma’ruf, A., Wijayanti. 2014.
Efektivitas Kunyit (Curcuma Longa Linn.) sebagai Pereduksi Formalin pada Udang
Putih (Penaeus Merguiensis) Penyimpanan Suhu Dingin. Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan. Volume 3, Nomer
1, Tahun 2014, Halaman 98-107.
Farnsworth,
N. R.1966. Biological and Phytochemical Screening of Plants.Journal of
Pharmaceutical Sciences.Volume 55. No.3.Chicago: Reheis Chemical Company. Pages
263-264.
Gunawan, D,
Mulyani, S., 2004.Ilmu Obat Alam(Farmakognosi)Jilid I,
Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Harborne, J. B. 2006. Metode
Fitokimia. Terbitan ke-II.a.b. Kosasih Padmawinata. Penerbit ITB. Bandung.
Harmita. 2006. Analisis
Fitokimia. Depok: Universitas Indonesia Press.
Hastuti,
S. 2010. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Formaldehid pada Ikan Asin di
Madura.Jurnal Agrointek. Vol 4, No.
2.
Mahdi,
C. 2008. Mengenal Perbagai Produk Reagen Kit TesterUntuk Uji Formalin, Borak,
Zat Pewarna Berbahaya Dan Kandungan Yodium Pada Garam Beryodium. Lampiran2,
Universitas Brawijaya. chanifmahdi@gmail.com
Miller, J. N
and Miller, J.C. 2000.Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry,
4th ed, Prentice Hall : Harlow.
Nadya
Yulisa, Enikarmila Asni, Miftah Azrin. 2014. Uji formalin pada ikan asingurami di pasar tradisional pecan baru.
Jom FK, Vol.1, No.2. hal,2
Napitupulu et al. 2008.TaksonomiKoleksi
Tanaman ObatKebun Tanaman
ObatCiteureup. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia.
Nikita
Noriko, Ekaristi Pratiwi, Angelia yulita, Dewi Elfidasari. Studi Kasus Zat
Pewarna, Pemanis Buatan dan
Formalin Pada Jajan Anak Di SDN Telaga Murni03 dan tumbuhan 04 Kabupaten
Bekasi.Jurnal Al-Azhar Indonesia seri
sains danteknologi, Vol. 1, No. 2, hal 49.
Nurheti,
Y. 2007. Awas Bahaya! Dibalik Lezatnya
Makanan. CV Andi Offset,
Yogyakarta.
Reuss
W, Disteldorf AO, Gamer AH.2005. Formaldehyde" in Ullmann's
Encyclopedia of Industrial
Chemistry.Weinheim:
Wiley-VCH.
Rohman. 2007. Kimia Farmasi
Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi
Tumbuhan . Yogyakarta : UGM
Tri, Margono.
1993. Buku Panduan Teknologi Pangan, Jakarta : Pusat Informasi Wanita
Widyaningsih
TD, Murtini ES.2006.Alternatif pengganti
formalin pada produk
pangan.Surabaya: Trubus Agrisarana..
Wisnu, C. 2006. Analisisdan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
PT.Bumi Aksara, Jakarta.
Lampiran
ü Bahan-bahan dan perlakuan
![]()
Sampel A
|
![]()
Sampel B
|
![]()
Sampel C
|
![]()
Kunyit
|
![]() Menghaluskan kunyit |
![]()
Larutan kunyit
|
![]()
Pemanasan menggunakan hot plate
|
Penghomogenan
|
![]()
Hasil ketika dingin
|
![]()
Hasil dari sampel A,B, dan C
|
![]()
Perendaman
|
![]()
Spektrofotometer
|
![]()
Hasil dari sampel 1,2, dan 3
|
||
ü Alat-alat
Cuvet
|
![]()
Gelas beker
|
![]()
Erlenmeyer
|
|||
![]()
Timbangan digital
|
![]() Larutan teskit
formalin |
![]()
Hot plate
|
|||
![]()
Pinset
|
Pengaduk kaca
|
![]()
Corong
|
|||
![]()
Tabung flacon
|
![]()
Porselen
|
![]()
Tabung reaksi
|
ü Tabel
uraian kegiatan penelitian
|
No
|
Hari dan Tanggal
|
Tempat
|
Uraian Kegiatan
|
|
1
|
Jum’at, 8 Mei 2015
|
Laboratorium biokimia
|
Perizinan laboratorium
dan peminjaman alat-alat
|
|
2
|
Senin, 11 Mei 2015
|
Sari kimia
|
Mencari bahan kimia
|
|
3
|
Selasa, 12 Mei 2015
|
Laboratorium biokimia
|
Memulai praktikum
(mempunyai kendala)
|
|
4
|
Rabu, 13 Mei 2015
|
Laboratorium biokimia
|
Uji kualitas sampel A,B,
dan C, yang mengandung formalin pada sampel C dan mulai perendaman,
menghasilkan sampel 1,2, dan 3
|
|
5
|
Jum’at, 15 Mei 2015
|
Laboratorium biokimia,
fisiologi hewan, dan genetika
|
Uji kualitas sampel 1
dan di lanjutkan uji kuantitas
|
|
6
|
Senin, 18 Mei 2015
|
Laboratorium biokimia,
fisiologi hewan, dan genetika
|
Uji kualitas sampel 2
dan di lanjutkan uji kuantitas
|
|
7
|
Rabu, 20 Mei 2015
|
Laboratorium biokimia,
fisiologi hewan, dan genetika
|
Uji kualitas sampel 3
dan dilanjutkan uji kuantitas
|




































